Menelusuri Sisa Hutan Jakarta
Pekan lalu, 10 Januari 2010, saya bersama kawan-kawan berjalan-jalan dalam kegiatan Fieldtrip kuliah ke Hutan di Jakarta. Emang di Jakarta ada hutan?. Inilah uniknya. Apalagi yang saya kunjungi hutan mangrove. Orang awam mengenal hutan mangrove dengan sebutan hutan bakau. Hutan bakau berada di daerah yang terkena pasang surut air laut. Hutan ini sealu tergenag setiap hari oleh air asin dan tertutup lumpur dari muara sungai.
Tujuan pertama saya adalah Kawasan Ekowisata Mangrove Sudiyatmo. Pasti sahabat yang sering bolak-balik Bandara Cengkareng akan hapal dengan tempat ini. Lokasinya tepat dipinggir kanan kiri tol Sudiyatmo Jakarta. Hutan mangrove yang tersisa hanya sekitar 95.5 ha yang memanjang 9 Km selebar 100 kanan kiri jalan tol Sudiyatmo.
Kawasan Mangrove Tol Sudiyatmo menyisakan pohon-pohon jenis mangrove sepetri Api-api (Avicenia sp.), Bakau (Rhizopora sp.) dan Perepat (Sonneratia sp.). Tinggi pohon rata-rata 5 m dengan diameter terbesar sebesar tiang listrik. Kawasan ini menjadi pusat wisata memancing dimana ratusan orang memancing ikan dipinggiran hutan mangrove. Selain itu terdapat Mangrove Education Center yang merupakan pusat pembibitan dan rehabilitasi mangrove yang dikelola oleh Dinas Perikanan dan Pertanian DKI Jakarta. Sekitar 10.000 bibit dipelihara dan di tanam di kawasan ini. Terdapat beberapa Perusahaan yang ikut mendanai rehabilitasi mangrove di kawasan ini seperti PT Bank Mandiri, PT Adira dan perusahaan lain melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan IPB.
Perjalanan berlanjut. Meski kunjungan saya ke Hutan, namun saya harus berputar-putar di perumahan elit Jakarta yakni Perumahan Pantai Indah Kapuk. Perumahan ini konon dibangun dengan mereklamasi (menimbun tanah) kawasan mangrove Angke Kapuk ratusan hektar. Saya melihat-lihat perumahan dimana banyak tawaran rumah baru dengan cicilan termurah ”hanya” 22 juta/bulan. Saya pun mengkerutkan dahi, dalam hati saya berkata, ” 22 juta kok hanya.” Gaji berapa ya yang sanggup beli rumah disini ?
Kunjungan berlanjut di Taman Wisata Alam Angke Kapuk (luas 25 Ha). Saya sempat bingung, apa yang akan dilihat disini. Hanya hamparan air dengan sedikit semak dan pohon kecil dipinggir. Ternyata kami disuruh mengukur bibit yang sedang dalam uji pertumbuhan di pinggir sungai lokasi Wisata ini. Hanya dua burung yang menarik perhatian. Saya berhasi mengambil gambar burung-burung itu sehingga bisa sedikit mengobato kekecewan dan kebingunan tadi.
Berkeliling perumahan elit kembali berlanjut.. Kami turun di Mall Besar. Kembali kami bingung. Kembali hati berbisik “Mau ngapain lagi ini? Belanja?.” Ternyata tepat di belakang Mal, terhampar luas Kawasan Hutan Lindung Angke Kapuk Yakarta Utara . Disana kami melihat lokasi penanaman bibit Bakau sebanyak 1.500 bibit.
Bibit Bakau yang ditanam sangat merana. Air tercemar serta sampah plastik dan stereofoam menutupi bibit setinggi sekitar 1 m yang baru ditanam sekitar setahun yang lalu. Kasihan sekali bibit bakau ini, padahal ada plang nama di dekat bibit itu dan baliho besar bergambar istri Menteri Perikanan dan Kelautan periode lalu sedang menanam bakau. Juga ada bibit bakau berlabel Gubernur DKI Jakarta, Walikota Jakarta Utara dan Ketua DPRD DKI Jakarta di dekat sampah-sampah itu. ”Bibit punya pejabat aja dibiarkan merana apalagi yang nanam saya? Bagaimana pula nasibnya?” Kembali saya bertanya dalam hati
Perjalanan berlanjut dengan menyusuri pantai Indah Kapuk. Awalnya hati saya riang gembira. ”Ini baru jalan-jalan pantai Euy.” Bisik hati saya. Waduh, ternyata lebih parah. Sesudah 200 meter kami menuju pantai sambil berloncatan diatas batu, tibalah kami pada pemandangan yang kontras. Bukannya pasir putih dan ombak putih menggulung yang kami jumpai. Kami harus menelan ludah setelah melihat air laut hitam pekat dan sampah yang berjejer sepanjang hampir 1 km menutupi pantai yang dibentengi bebatuan besar ini.
Namun diujung pantai berminyak hitam dan seperti tempat pembuangans sampah ini masih ada pohon-pohon bakau yang tumbuh. Sisa hutan inilah yang memberi pemandangan melegakan disamping banyak burung bangau putih dan oranye yang mondar-mandir. Akhirnya ”legenda” Pantai Indah Kapuk saya lihat sendiri saat itu. Beruntungnya saya menyaksikan ”tragedi lingkungan” yang sudah saya dengar 15 tahun lalu.
Kategori: PERJALANANKU
Ditandai: Bakau, jakarta, mangrove, Muara Angke, Pantai Indah Kapuk, Tol Sudiyatmo
Musim liburan akan berakhir. Seorang keluarga kaya sudah menghabiskan waktu berkeliling tempat wisata terkenal. Namun mereka sepertinya tidak mendapatkan kepuasan batin dengan kegiatan rekreasinya.
Suatu ketika, mobil mereka terhenti di sebuah desa yang jauh dari keramaian. Mereka tertarik dengan pemandangan alami desa itu. Sawah terhampar menghijau. Burung berkicau sangat indah. Para petani menabur pupuk dan menjaga padinya. Dari jauh terlihat perkampungan di tengah sawah yang dikelilingi pepohonan.
Sang Ayah mengajak anak satu-satunya berjalan menuju kampung untuk meilhat lebih dekat kehidupan masyarakat desa. Mereka melihat-lihat pemandangan dan aktifitas masyarakat tanpa mengganggunya. Ayah dan anak itu sangat menikmati kegiatan ini sampai terlupa mobil yang ditinggalkannya.
Tibalah mereka di sebuah gubuk di tengah sawah. Ayah dan anak ini duduk melepas lelah sambil menikmati hamparan padi muda dan semilir angin sore. Sang Ayah kemudian memulai pembicaraannya.
”Anakku….apakah kamu senang dengan perjalanan barusan?”
”Sungguh menakjubkan Ayahku…baru kali ini aku merasakan perjalanan rekreasi yang berkesan.” Jawab Sang Anak.
”Apa yag membuatmu sangat terkesan sayang?” Sang Ayah penasaran
”Ternyata mereka lebih kaya daripada kita Ayah…” Anak itu menjawab perlahan. Ayahnya mengangguk pelan. Dia yakin anaknya punya alasan yang akan membuatnya kagum. ”Coba terangkan alasanmu nak, mengapa mereka lebih kaya?”
Sang anak menghela nafas sejenak.
” Ayah….kita memiliki kendaraan mewah yang bisa mengantar kita tanpa terkena panas dan hujan. Tapi mereka punya kaki yang kuat dan tubuh yang bersahabat dengan panas dan hujan.”
” Kita punya seekor kucing dan 3 ekor burung yang dibeli sangat mahal. Mereka memiliki banyak sekali hewan peliharaan yang datang sendiri kerumah mereka.”
” Kita membeli AC dan kipas angin untuk mengusir panas. Mereka memiliki udara yang segar dan bersih dimana pun mereka bekerja dan beristirahat.”
” Kita mempekerjakan pembantu untuk melayani kita. Mereka hidup saling melayani satu sama lain tanpa ada yang meminta upah.”
” Kita harus membeli makanan dan dilayani saat waktu makan. Mereka bisa menyediakan makanannya, memasak dan menghidangkannya sendiri.”
”Kita hanya punya tanah yang sempit di depan rumah kita. Mereka memiliki halaman sebatas mata memandang.”
”Kita punya rumah yang tidak luas dan kamar yang sempit. Rumah mereka beratap langit dan mereka tidur dimanapun berselimut embun.”
” Kita memagari rumah dan membuat dinding tinggi agar aman. Mereka mempunyai banyak tetangga dan sahabat yang saling melindungi dan membuatnya aman.”
” Kita minum dan mandi dengan batasan biaya. Mereka bebas mandi, mencuci dan minum air tanpa membayar.”
” Kita kemari dengan menyisihkan tabungan berbulan-bulan. Mereka tiap saat menikmati pemandangan dan suasana alami dan memetik hasil darinya.”
Sang Ayah memeluk tubuh anaknya. Semilir angin mengiringi langkah mereka menembus persawahan menuju mobil yang ditinggalkannya sejak tadi pagi. Mentari sore mengiringi perjalanan pulang mereka. Mereka telah mendapatkan hikmah dari perjalanannya.
Achmad Siddik Thoha
siddikthoha@yahoo.com
Kategori: RENUNGANKU
Ditandai: Anak, hikmah, liburan, petani, ayah, perjalanan
Berikut adalah sebuah cerita tentang bagaimana sebuah pesan dikomunikasikan secara hirarkis dalam sebuah perusahaan, dari Direktur hingga ke karyawan bawahan.
Dari: Direktur – Kepada: General Manager
“Besok akan ada gerhana matahari total pada jam sembilan pagi. Ini Adalah kejadian yang tak bisa kita lihat setiap hari. Untuk menyambut dan melihat peristiwa langka ini, seluruh karyawan diminta untuk berkumpul di lapangan dengan berpakaian rapi. Saya akan menjelaskan fenomena alam ini kepada mereka. Bila hari hujan, dan kita tidak bisa melihatnya dengan jelas, kita berkumpul di kantin saja.”
Dari: General Manager – Kepada: Manager
“Sesuai dengan perintah Direktur, besok pada jam sembilan pagi akan ada gerhana matahari total. Bila hari hujan, kita tidak bisa berkumpul di lapangan untuk melihatnya dengan berpakaian rapi. Dengan demikian, peristiwa hilangnya matahari ini akan dijelaskan oleh Direktur di kantin. Ini adalah kejadian yang tak bisa kita lihat setiap hari.”
Dari: Manager – Kepada: Supervisor
”Sesuai dengan perintah Direktur, besok kita akan mengikuti peristiwa hilangnya matahari di kantin pada jam sembilan pagi dengan berpakaian rapi. Direktur akan menjelaskan apakah besok akan hujan atau tidak. Ini adalah kejadian yang tak bisa kita lihat setiap hari.”
Dari: Supervisor – Kepada: Koordinator
“Jika besok turun hujan di kantin, kejadian yang tak bisa kita lihat setiap hari, Direktur, dengan berpakaian rapi, akan menghilang jam
sembilan pagi.”
Dari: Koordinator – Kepada: Semua Staff
“Besok pagi, pada jam sembilan, Direktur akan menghilang. Sayang sekali, kita tidak bisa lagi melihatnya setiap hari”
Dari: Staff kepada Staff
“Memang dia lebih baik pergi…”
KIRA-KIRA, Siapa yang ERROR ?
Kategori: RENUNGANKU
Ditandai: efektif, hirarki, komunikasi, Perusahaan, pesan
Mungkin Anda pernah melihat film RAMBO. Ya…film yang menggambarkan kisah heroik seorang “pahlawan” Amerika Serikat (AS) yang melawan tentara Vietkong di hutan rimba sendirian. Di balik kisah itu ada sebuah kasus luar biasa yang menimpa Negara Amerika akibat perang Vietnam. Kasus ini dikenal luas dengan kasus Hamlet Case.
Hamlet adalah istilah dusun/kampung dalam bahasa Inggris. Dalam aksinya, setiap memasuki desa atau dusun, tentara AS selalu membakar gubuk-gubuk. Dengan kata lain, selain memburu tentara Vietkong, tentara AS juga membumi hanguskan perkampungan.
Maka mucullah berita besar di AS tentang “kebiadaban” tentara AS yang gemar membakar kampung. Kondisi politik AS gonjang-ganjing. Isu besar ini bisa meruntuhkan citra AS di mata dunia karena negara lain bisa menuduhnya sebagi pelanggar HAM.
Seorang reporter surat kabar ternama AS kemudian mempublikasikan hasil investigasinya. Investigasi ini dilakukan pada kasus pembakaran sebuah dusun oleh Pasukan AS yang bernama Divisi Kavaleri Udara Pertama pada Tahun 1967. Hasil investigasi reporter itu menguraikan beberapa pesan berjenjang dari Pusat komando dari Markas Besar sampai ke Prajurit di lapangan :
PERINTAH dari MASKAS BESAR DIVISI KE BRIGADE :
” Tidak Boleh ada lagi satu kejadian pun dusun-dusun yang dibakar”
LALU BRIGADE MENGIRIMKAN PESAN RADIO KE BATALION:
”Jangan membakar dusun-dusun, kecuali kamu benar-benar yakin bahwa VietKong ada bersama mereka”
LALU BATAION MENGIRIM PESAN RADIO KE KOMANDAN PASUKAN INFRANTRI DI LAPANGAN:
” Jika Kamu pikir ada Vitkong di dusun itu, Bakar saja”
LALU KOMNADAN PASUKAN MEMRINTAHKAN KEPADA TENTARA-TENTARANYA :
” Bakar Dusun itu ”
Kategori: TULISAN SEGAR
Ditandai: case, hamlet, motivasi, pesan, politik
Sebuah pohon yang kita lihat seolah hanya terdiam tak bergerak. Ia hanya bergerak ketika ada tenaga yang menggoyang batang dan daunnya. Bahkan dia tak akan melawan ketika manusia menyakitinya bahkan akan menebangnya. Seolah pohon patut dikasihani dan tak punya apapun. Namun pohon memberikan apa yang tak sanggup manusia beri. Pohon memberi manfaat tak terhingga. Bahkan pohon yang seharusnya makhluk yang menerima karena ”tidak berdaya” justru Ia sanggup memberi yang terbaik.
Pohon tak pernah ingkar dan khianat dalam tugasnya. Setiap saat pohon tak henti mengeluarkan oksigen yang kita butuhkan untuk hidup. Tak kenal lelah pohon menghisap udara kotor kita, karbondioksida, hingga udara menjadi bersih dan sejuk. Secara disiplin Ia memekarkan buah dan meruntuhkan buahnya saat musim buah. Lewat akarnya, pohon bisa menahan air dan tanah hingga melindungi dari kekeringan dan longsor. Lewat daunnya yang lebat setiap hari memberi kelembaban pada udara kita dan menyumbang bagi turunnya hujan.
Bahkan saat pohon disakiti, ia tetap memberikan cintanya. Manusia membuang kotoran dibalik pohon, ia tetap emberikan kesejukan dan menetralisir bau lewat kelembaban tanah dan bunga yang wangi. Manusia melemparya dengan batu, ia membalas dengan buah dan bunga. Manusia melukai dan mencongkel batangnya, ia membals dengan getah dan buah yang lebat.
Pohon mengajari cinta tak terbatas. Cinta yang tumbuh dalam suka dan duka. Kekuatan memberi yang tak pernah pudar. Bahkan saat suasana yang menyakitkan yang menimpa pohon, ia sanggup memberi cinta terbaiknya. Cinta pohon bagi lingkungan akan berakhir saat dia mati. Tapi ingat, dia telah menyebarkan cintanya ke wilayah lebih luas dengan menyebar bijinya melalui angin, air, serangga dan hewan lain.
Oh…Pohon, bisakah aku belajar dari cintamu yang tak pernah mati. True love is never ending. The Tress is source of love.
Seandainya kita mendengar “tangisan” pohon saat mereka teraniaya, mungkin hutan kita akan tetap lestari. Mungkin juga banjir bandang, longsor dan kekeringan adalah bentuk “tangisan” dari pohon-pohon yang teraniaya.
Achmad Sidik Thoha
achmadsiddik@hotmail.com
0815 1429 7728
Kategori: RENUNGANKU
Ditandai: cinta, karbon, KISAH INSPIRATIF, love, oksigen, Pohon, Tree
Tahukah kita alang-alang. Tumbuhan tingkat bawah yang muncul di tanah tandus dan di bekas hutan yang rusak dan terbuka. Alang-alang sangat mudah tumbuh dan menyebar begitu cepat hingga menutupi tanah yang tandus tadi. Seringkali alang-alang dianggap sebagai gulma.
Tidaklah mudah bersaing dengan alang-alang. Banyak tanaman yang coba ditanam di areal alang-alang, sering mengalami kematian. Kematian karena tidak bisa bersaing dengan kecepatan tumbuh alang-alang dan karena akar alang-alang yang mengandung zat kimia bernama allelophaty.
Tidak hanya alang-alang, banyak tumbuhan mempunyai allelophaty pada akarnya. Allelophaty merupakan senjata bagi tumbuhan untuk bersaing dengan tumbuhan lain. Allelophaty bisa membuat tanah tidak cocok bagi tanaman lain sehingga lama kelamaan mati.
Disamping itu, alang-alang mampu membuat rimpang yang padat pada tanah yang ditumbuhinya. Ini membuat tanaman lain sulit mengembangkan akarnya menembus areal perakaran yang nyaman bagi penyerapan nutrisi dan air. Akibatnya, alang-alang tetap bisa bertahan.
Kehebatan alang-alang lebih pada akarnya. Coba Anda bakar areal alang-alang. Maka sehari setelah terbakar akan muncul tunas-tunas baru yang lebih segar daripada sebelum dibakar. Karena yang terbakar hanyalah daun dan batang alang-alang. Akar alang-alang tetap eksis dan kembali menumbuhkan tunas segar.
Tunas-tunas segar alang-alang inilah yang sangat dinantikan bagi penggembala ternak dan hewan pemakan daun. Hewan-hewan ini laksana menemukan oasis di padang pasir ketika melihat tunas-tunas segar alang-lang yang habis dibakar. Ingat, tanah yang ditumbuhi alang-alang ternyata sanggup menahan tanah sehingga tidak tergerus oleh air hujan. Maka alang-alang membantu tanah tidak tererosi dan tebing-tebing relatif aman dari longsor. Manfaat lain adalah akar alang-alang kerap digunakan sebagai bahan obat tradisional, untuk meluruhkan kencing (diuretika), mengobati demam dan lain-lain
Akar alang-alang memberi pelajaran bagi kita tentang pentingnya memiliki senjata bertahan hidup yang ampuh. Meski dipandang remeh karena terkesan sebagai ”sampah”, namun alang-alang sulit ditaklukkan karena ”senjata rahasia”nya. Banyak orang yang diremehkan bahkan dianggap sebagai sampah masyarakat yang sulit diberantas, ternyata memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan lain.
Tak sedikit orang yang dianggap sampah oleh masyarakat mempunyai daya tahan hidup yang luar biasa daripada orang mapan dan serba cukup. Mereka sudah sering ”dibakar” oleh lingkungan yang keras. Hasil ”pembakaran” itulah yang menumbuhkan semangat hidup untuk menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Maka kita saksikan tidak sedikit tokoh negeri ini lahir dari kehidupan mereka yang awalnya prihatin, sangat terbatas dan kadang dicela masyarakat.
Akar alang-alang telah mengajari manusia bagaimana bertahan hidup dan tetap memberi manfaat diantara ”celaan-celaan” yang ditujukan padanya.
Achmad Siddik Thoha
achmadsiddik@hotmail.com
081514297728
Kategori: RENUNGANKU
Ditandai: akar, Alang-alang, Allelophaty, KISAH INSPIRATIF, rimpang
Pernahkah kita melihat pohon yang ditebang dan yang tersisa hanya tunggulnya. Tak lama kemudian dari sisi tunggul muncul tunas-tunas segar. Lama kelamaan tunas itu membesar membentuk batang dan cabang baru. Sebuah fenoma luar biasa dari daya tahan pohon.
Apa rahasia dibalik “hidup” kembalinya pohon setelah “mati” ditebang ? Akar lah yang membuat tunas kembali mucul dan kemudian berkembang menjadi sosok pohon yang sempurna. Tanpa akar yang tersisa di pohon, tak mungkin tunas kembali muncul. Akar lah yang tetap loyal dan komitmen menjalankan tugasnya untuk menumbuhkan tunas baru, menyalurkan nutrisi dan air ke bagian tanaman lain dan mengokohkan tubuh pohon.
Selama akar masih bisa menyerap air di dalam tanah. Semasih akar bisa menghirup oksigen di dalam tanah. Selama tubuh pokok akar tidak terpenggal. Maka pastikan pohon tidak akan mati.
Bila akar manusia adalah iman. Maka selebar apa pun luka masalah yang dialami, seperih apa pun sakit ujian yang terasa, seberat apa pun beban hidup yang menimpa. Iman yang kokoh akan menghidupkan kembali jiwa dan raga yang hampir mati.
Semasih iman masih mau menyerap petunjuk-Nya, selagi Iaman memancarkan aliran amal kepada lingkungannya dan iman yang senantiasa kokoh dalam memegang perintah dan larangan-nYa. Maka Tunas-tunas harapan senantiasa akan tumbuh dan berkembang hingga jatidiri kembali seperti semula. Bahkan bukan tidak mungkin jatidiri baru yang terbentuk lebih baik dari diri sebelumnya.
Sungguh luar biasa manusia yang terus memperkokoh imannya.
Achmad Siddik Thoha
achmadsiddik@hotmail.com
081514297728
Kategori: RENUNGANKU
Ditandai: akar, KISAH INSPIRATIF, Power, Root, tebang, Tunggul
Khasiat obat dari tumbuhan umumnya terdapat di akar. Bila ingin mencari air di hutan carilah dekat akar atau di akar itu sendiri. Akar menyalurkan nutrisi & air ke seluruh tubuh tumbuhan.amun tidaklah mudah menemukan akar. Akar ada di tempat terpenda. Sering kita terkesima dengan Bunga, Buah, Batang & Daun. Namun kita sering melupakan akar yg penuh manfaat & penting namun sering tak terlihat atau tidak ingin terlihat.Sungguh mulia manusia yg “mengakar”. Akar menyembunyikan diri dan tidak bernafsu menonjolkan diri karena jasanya. Namun lebih memilih terpendam untuk menjadi bermanfaat.
Akar tanaman di hutan rawa atau mangrove/bakau “terpaksa” menampakkan diri keluar. Bukan karena angkuh, namun demi kokohnya dan suburnya batang, daun, bunga dan buah pohon yang disanggahnya. Hal yang paling fenomenal dari kemunculan akar di atas air adalah kemampuannya meredam ombak dan menyerap racun untuk keselamatan makhluk lainnya khususnya manusia. Sungguh mulia manusia yang mau menjadi ”akar” untuk menopang dan meredam berbagai bahaya bagi saudara-saudaranya.
Memutuskan untuk berbuat tidaklah sulit. Menjadi sulit ketika menjawab pertanyaan bagaimana caranya kita berbuat. Namun yang tersulit adalah ketika telah berbuat. Apakah kita memutuskan tampil menjadi bunga, buah, daun atau batang yang orang terkesima dengannya. Atau cukup menjadi akar saja yang tetap terpendam dan jauh dari pujian orang.
Achmad Siddik Thoha
achmadsiddik@hotmail.com
081514297728
Kategori: RENUNGANKU
Ditandai: akar, ikhlas, KISAH INSPIRATIF, mangrove, obat, pujian

Ficus Yang Tumbuh di Bebatuan
Pernahkah Anda melihat dan mengamati akar pohon beringin (ficus). Lihatlah bagaimana bentuk dan penjalaran akar beringin. Akar beringin selalu menyesuaikan dengan bentuk dan ukuran batang dan bentuk cabangnya. Bila cabang menjulur condong ke selatan, maka akar beingin akar ikut tumbuh ke selatan. Selain itu, bentuk dan arah akar beringin berfungsi untuk menopang berat pohon bagian atas. Cengkaraman akar yang menonjol di permukaan tanah ini bukti kuat bahwa pohon beringin akan kokoh menghadapi tantangan lingkungan yang akan bisa menumbangkannya. Hampir semua orang mengatakan, beringin mampu tumbuh di atas batu. Batu yang keras atau bukit berbatu malah menjadi tempat yang nyaman bagi beringin untuk tumbuh. Sungguh menakjubkan karena batu sama sekali bukan tempat yang cocok bagi hampir semua makhluk hidup untuk tumbuh dan berkembang biak. Rahasia mengapa pohon beringin dapat tumbuh di atas batu adalah kemampuan akarnya mencengkram, menelusup, melunakkan dan menjadikan batu menjadi tanah. Batu yang dianggap sebagai penghambat tumbuhnya pohon, bagi beringin merupakan tantangan untuk bisa bertahan dan berkembang. Maka lihatlah betapa menakjubkan bentuk akar beringin yang menjalar dan menembus batu. Akar beringin mencari air dengan menembus celah-celah batu hingga bisa menembus bagian luar batu. Bukit batu yang tadinya tampak gersang dan kering kerontang mulai menghijau. Lambat laun air mulai menetes dari celah-celah batu dan lumut pun mulai tumbuh. Beringin dengan akarnya yang khas telah menjadikan kawasan gunung berbatu sebagai kawasan sumber air. Luar biasa. Sahabat, beringin mengajarkan pada manusia untuk tidak menyerah pada lingkungan yang keras, terbatas bahkan menyakitkan. Sekecil apapun peluang, modal dan penyokong hidup yang kita miliki harusnya menjadi pemicu untuk tetap tumbuh. Celah-celah kecil peluang yang ada harus kita manfaatkan sehingga mampu menembus kokohnya halangan atau rintangan hidup. Namun, bila kesuksesan mulai berkembang dan menjulang, jangan melupakan pijakan dan cengkraman diri agar tidak tumbang oleh tantangan luar. Sebab makin membesar dan menjulang prestasi serta karir kita, terpaan ujian akan maikin keras. Maka sesuaikan berkembangnya kesuksesan kita dengan pondasi dan cengkraman iman yang juga kuat. Maka keindahan bentuk pondasi hidup yang menjalar dan mencengkram kuat di “batu” d kita akan meneteskan manfaat berupa kejernihan “air” dan kesegaran “udara” manfaat bagi banyak orang.
Achmad Siddik Thoha
achmadsiddik@hotmail.com
081514297728
Kategori: RENUNGANKU
Ditandai: akar, batu, beringin, ficus, KISAH INSPIRATIF, pondasi

Ming Ming, Mahasiswa Pemulung
Sambil berjalan, gadis berjubah itu memungut dan mengumpulkan plastik bekas minuman yang ditemuinya sepanjang jalan. Dia berjalan kaki sehari kurang lebih 10 km. Selama berjalan itulah, dengan menggunakan karung goni, dia memperoleh banyak plastik untuk dibawa pulang.
Orang menyebutnya ’Pemulung’ satu pekerjaan yang bagi ukuran usia remaja sangat tidak bergengsi. TAPI TIDAK BUAT MING MING. Gadis berusia 17 tahun, mahasiswi semester pertama jurusan akuntansi. Dan salah satu mahasiswa TERPANDAI di kelasnya.
Mengenakan gamis hijau, jilbab lebar dan tas ransel berwarna hitam, dia memasuki lobi Universitas Pamulang (UNPAM), Tangerang. Saat kelas usai, dia pergi ke perpustakaan.
“Ilmu sangat penting. Dengan Ilmu saya bisa memimpin diri saya. Dengan ilmu saya bisa memimpin keluarga. Dengan ilmu saya bisa memimpin bangsa. Dan dengan ilmu saya bisa memimpin dunia.” Itu asalan Ming Ming kenapa saat istirahat dia lebih senang ke perpustakaan daripada tempat lain. (keren ya…)
Sore hari setelah kuliah usai, Ming Ming menuju salah satu sudut kampus. Di sebuah ruangan kecil, dia bersama beberapa temannya mengadakan pengajian bersama. Ini adalah kegiatan rutin mereka, yang merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa di UNPAM.
Setelah itu, dia bergegas keluar dari komplek kampus. Namun dia tidak naik kendaraan umum untuk pulang. Dia lebih memilih jalan kaki ke rumahnya. Padahal jarak rumah dengan kampus lumayan jauh. Dalam perjalanan itulah, gadis bersahaja ini memunguti plastik bekas minuman tanpa rasa jengah sedikitpun. Karena dia berpikir dengan cara inilah dia bisa membantu meringankan beban ekonomi orangtuanya.
Rumah Ming Ming jauh dari kampus. Dia tinggal bersama ibu dan 6 orang adiknya yang masih kecil-kecil. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana yang mereka pinjam dari saudara mereka di Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor. Biasanya setelah berjalan hampir 10 km, untuk sampai ke rumahnya Ming Ming menumpang truk. Sopir truk yang lewat, sudah kenal denganya, sehingga mereka selalu memberi tumpangan di bak belakang.
Subhanallah, setelah truk berhenti dengan tangkas dia naik ke bak belakang lewat sisi samping yang tinggi itu. (can you imagine it?)
Ming Ming sekeluarga adalah pemulung. Dia, ibu dan adik-adiknya mengumpulkan plastik, dibersihkan kemudian dijual lagi. Dari memulung sampah inilah mereka hidup dan Ming Ming kuliah.
Ini adalah sepenggal cerita nyata yang ditayangkan dalam berita MATAHATI di DAAI TV sore tanggal 18/8/2009. Di Trans TV juga disiarkan hari selasa beberapa hari sebelumnya, di acara KEJAMNYA DUNIA. Sungguh episode yang membuat bulu kuduk kita merinding dan mata kita berkaca-kaca.
Astaghfirullah. Gimana bisa kita masih sering mengeluh hanya karena tabungan gak nambah-nambah?
OMG…. Bagaimana dia bisa berjalan 10 km perhari? Kita aja jalan 20 menit ke kantor tiap pagi dan sore sudah merasa capek banget. Lemah.
Subhanallah. Semangatnya itu loh. Kalau dengar dia berkata-kata, sepertinya tidak ada rasa minder, malu, bahkan dia sangat yakin. Oh girl, you are so great. Wonderfull.
Source: email dari teman. Semoga bisa menyadarkan kita untuk selalu bersyukur akan apa yang kita punya.
Kategori: Media
Ditandai: Akhwat, Aktifis Lingkungan, Ilmu, Mahasiswa, Pemulung