Antara Pleret dan Pangandaran

Kisah Kehidupan Anak-anak Pengungsian

Keceriaan Anak Pengungsi Pangandaran (Gambar by Siddik 2006)

Keceriaan Anak Pengungsi Pangandaran (Gambar by Siddik 2006)

Bantul, 27 Mei 2006, pukul 06.00, bumi tiba-tiba menyentak mengangkat permukaan bumi keatas. Selang beberapa detik guncangan semakin kencang laksana mengaduk-aduk permukaan bumi. Terlihatlah…ribuan rumah hancur, ribuan mayat tertimbun rentuhan, puluhan ribu orang mengungsi. Anak-anak dan orang tua adalah korban terbanyak. Ternyata tak hanya bantul, gempa meluluhlantakkan jogja, gunung kidul, sleman dan klaten.

Pangandaran, 17 Juli 2006, pukul 16.00, air laut susut di pantai pangandaran. Beberapa orang sadar dan beberapa lainnya tak sadar bahwa sebentar lagi ombak laksana bukit hitam akan menghantam mereka. Dua puluh menit kemudian, ombak hitam setinggi tujuh meter menghempas pantai dan menerjang terus hingga 1 km dari pesisisr pangandaran. Semua menyelamatkan diri, naik ke atas pohon kelapa, naik genting, lari ke gunung dan beberapa orang terombang-ambing ombak hingga akhirmnya selamat. Kemudian terlihat dan terdengarlah…ratusan mayat tergeletak, ribuan rumah hancur, dan ribuan pula warga mengungsi. Ternyata Gempa dan tsunami melanda pula Cilapcap, Tasik, Garut dan Kebumen.

Beberapa saat kemudian suasana mencekam. Orang tua mencari anak-anaknya, anak-anak kehilangan jejak orangtuanya, semuanya histeris. Hampir semua orang tak berani mendekat pantai. Hampir semua mengungsi meskipun rumahnya tidak hancur oleh gempa dan tsunami. Anak-anak adalah pihak yang paling menyedihkan. Sehari-hari bermain, sekolah, mengaji dan bercanda dengan oarng tua, tiba-tiba harus menjalani kehidupan mencekam.
Di pleret, lokasi terparah gempa jogja dan jateng, anak-anak tersebar dibeberapa posko pengungsian. Menyedihkan, sebagian mereka harus terpaksa atau dipaksa untuk meminta sedekah di jalan-jalan raya. Mereka dengan berani menghentikan kendaraan siapa saja untuk memperoleh sumbangan. Padahal sebelumnya mereka adalah anak pemalu, sopan dan “nrimo”. Mereka juga masih trauma karena gempa terus terjadi selama dua minggu pasca gempa dengan skala lebih kecil.

Ihsan, seorang anak pengungsi asal Pleret yang tegar. Ketika kutanya apa yang terjadi ketika gempa menguncang rumahnya. “Saya tidak bisa lagi lari. Atap sudah mulai runtuh. Saya merapat ke dinding di dekat lemari besar. Sementara adik saya masih kecil dan terkubur. Ibu dan Bapak saya sedang di luar rumah.” Tutur Ihsan tanpa gemetar. Luar biasa, sebuah ungkapan yang memancarkan keikhlasan dan ketegaran hati seorang anak. Bentuk ketegaran hati Ihsan terlihat pula saat sholat. Dialah anak yang paling depan menempati shaf sholat berjamaah dibanding anak-anak lain.

Di Pangandaran, anak-anak tak berani melihat pantai. Mendengar gemuruh pantai saja mereka trauma. Namun,lambat laun mereka berani bermain dengan relawan bahkan mulai ada yang mengajak jalan-jalan ke pantai. Mereka sudah berani mengungkapkan perasaannya lewat gambar dan cerita. Keceriaan mereka membuat orangtua mereka lambat laun kembali bersemangat menjalanai hidup.Ismaya, gadis cilik kelas 3 SDN 2 Pananjung Pangandaran bercerita dengan lincah kepadaku. ” Maya lari pas tsunami. Tapi adik maya namanya Nur meninggal. Dia masuk surga kan Kak ?” Subhanallah, hatiku terguncang. Dengan lirih aku menjawab.” Insya Allah, nanti adik maya akan membukakan pintu Surga buat Ibu, Bapak, Maya dan menghidangkan makanan enak buat keluarga maya.” Luar biasa apa yang Maya ungkapkan. Sebuah ungkapan ikhlas dan pancaran iman seorang anak pengungsi.
Hampir tiap hari Ihsan bermain bersamaku di pleret Bantul. Hampir tiap hari maya dan kakaknya, Supri, tak pernah absen mengajakku bermain dan berjalan-jalan di pengungsian Bulak Laut, Pangandaran. Keceriaan anak-anak korban gempa dan tsunami seolah mengubur kesan bahwa anak-anak pengungsi adalah pihak yang paling menderita, paling perlu dikasihani dan obyek keprihatinan yang bisa memancing datangnya proyek rehabilitasi jutaan dolar.
Anak-anak korban musibah tak perlu dikasihani dengan program bermilyar-milyar rupih atau berjuta-juta dolar. Anak-anak di pengungsian tak butuh mainan canggih berharga ratusan ribu. Mereka hanya ingin bahwa keceriaan dan suasana bermain yang sebelumnya mereka dapatkan tiap hari bisa kembali lagi. Keberadaan relawan yang tulus, sabar, mau mendengar keluhan anak, mau mengajak dan diajak bermain kurasa cukup menjadi penawar bagi kekosongan masa ceria anak-anak. Terlebih lagi bila lembaga kemunisiaan menerjunkan relawan terdidik, terlatih dan peralatan bermain yang sesuai akan mempercepat kembalinya suasana keceriaan. Keceriaan anak menjadi jalan tumbuhnya semangat orangtua. Tumbuhnya semangat untuk menggapai harapan masa depan yang lebih baik adalah modal utama membangun kembali kehidupan pasca musibah akibat bencana alam dan konflik sosial.
Ihsan, Maya, Supri dan anak-nak yang sekarang masih di pengungsian bisa jadi teladan bagiku. Mereka mengembalikan kepekaan hatiku yang sebelumnya keras membatu. Mereka adalah lentera hatiku yang yang sebelumnya meredup. Ungkapan terakhir mereka saat aku pamitan.”Kakak kapan kembali lagi kesini?”. Wallahu’a’lam

Achmad Siddik Thoha

Relawan Bencana Gempa Jogja Bersama LSM Aksi Cepat Tanggap (ACT)

Relawan Bencana Tsunami Pangandaran Bersama WALHI Jawa Barat

One response to “Antara Pleret dan Pangandaran

  1. Salam Hormat, Salam Senyum Kanggo Sedulur Kabeh
    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Perkenalkan, Saya H.M.Jamil,SQ,MPd ingin meminta dukungan Saudara dalam pemilihan Caleg DPR RI PPP 2009 Dapil Kebumen, Banjarnegara & Purbalingga.
    Semoga bermanfaat bagi kita semua.
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s