OSPEK Relijius, Kreatif dan Peduli Sosial

Materi OSPEK Peduli UII

Unjuk Rasa Mahasiswa Baru : Materi OSPEK Peduli UII Yogyakarta (Sumber: jawapos.co.id)

Kasus terbunuhnya praja IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri) memberikan warning bagi kalangan perguruan tinggi (PT) bahwa kekerasan masih berkembangbiak di Kampus. Kurang lebih satu bulan ke depan mahasiswa baru akan memasuki kampus-kampus Perguruan Tinggi Negeri. Aroma kegiatan dalam rangka menyambut kedatangan junior sudah tercium dari beberapa aktifitas seniornya.

Bagi mahasiswa baru, kegiatan pengenalan kampus tidaklah menjadi perhatian serius mereka. Bagi mahasiswa baru, bisa masuk ke kampus merupakan bagian dari cita-cita mereka. Apapun kegiatan di kampus tak menjadi beban buat mereka. Lain halnya dengan orang tua mahasiswa, masa awal di kampus menjadi semakin menambah kekhawatiran mereka mengingat budaya kekerasan di kampus yang belum hilang. Demikian pula para pimpinan dan staf pengajar akan menghadapi suasana menegangkan menghadapi kehadiran mahasiswa baru ini.

Sebenarnya kegiatan Pengenalan Kampus dengan model massal yang dikenal dengan OSPEK (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) sudah dihapus sejak lama. Kegiatan pengenalan kampus yang diperkenankan hanya berupa kegiatan di dalam kelas dengan materi seputar aktifitas akademik dan organisasi kampus. Namun bukan berarti tradisi lama berupa perploncoan ikut terhapus. Setelah menikmati minggu pertama di Kampus, mahasiswa baru bersiap menghadapi perploncoan terselubung lewat kegiatan kemahasiswaan yang sering dibuat wajib dan mengandung sanksi sosial dan organisasi mahasiswa. Aktifitas berbau perploncoan berlanjut hingga kegiatan praktikum yang diasuh oleh asisten yang notabene juga senior. Walhasil mahasiswa baru merasakan ketegangan satu hingga dua semester sebelum datangnya mahasiswa baru tahun berikutnya.

Kekerasan di Kampus

Budaya kekerasan di Kampus yang sering diaplikasikan pada acara Pengenalan Kampus tidak terlepas dari budaya di sebagian masyarakat kita. Sebagian masyarakat masih menjadikan kekerasan sebagi solusi untuk mengatasi masalah penegakan peraturan dan tradisi. Di kampus, mahasiswa lama menerapkan peraturan bernuansa kekerasan untuk menegakkan disiplin, penghormatan kepada yang lebih tua, kekompakan dan solidaritas. Nilai-nilai yang mulia tersebut tentu saja hanya bisa disaksikan implementasinya pada saat masa pengenalan kampus yang tidak lebih dari seminggu. Setelah itu, mahasiswa akan kembali ke sikap awal dan bahkan menjadi termotivasi untuk meniru perilaku kekerasan seniornya.

Kekerasan di Kampus bila ditelusuri mendalam, tidak hanya berkaitan dengan kekerasan dalam arti kontak fisik. Kekerasan juga bisa dilakukan oleh selain kalangan mahasiswa termasuk dosen. Beberapa bentuk perilaku diluar kontak fisik yang digolongkan kekerasan di kampus yaitu: Pertama, pengungkapan kata-kata tidak senonoh dan penghinaan yang merendahkan nilai dan martabat kemanusiaan mahasiswa. Kedua, pemaksaan nilai dan atribut tertentu untuk dilakukan secara massal, seragam dan persis antar satu mahasiswa dengan mahasiswa lainnya. Ketiga, ucapan dan tindakan bernada ancaman fisik, sanksi sosial dan akademik yang tidak proporsional. Seperti seorang asisten praktikum yang mengancam mahasiswa tidak lulus praktikum, padahal kelulusan mahasiswa ditentukan oleh penanggung jawab akademik yaitu dosen. Keempat, Pemberian tugas yang tidak sepantasnya dan tidak sesuai dengan tujuan pendidikan. Misalnya membawa peralatan atau bahan yang sulit dicari dan membuat malu mahasiswa. Kelima, merampas dan merazia barang mahasiswa baru yang merupakan barang pribadi yang bernilai privacy. Keenam, mengaitkan kelemahan pribadi dengan ciri etnis tertentu. Ketujuh, memberi gelar yang berasal dari ciri khas fisik, gaya dan sifat bawaan yang negatif.

Kekerasan non fisik justru akan berdampak lebih buruk dari kekerasan fisik bila telah menjadi tradisi. Buah dari kekerasan non fisik adalah kekerdilan berpikir, pelecehan etika dan moral, mematikan kreatifitas, menumbuhkan dendam, meruntuhkan motivasi dan dampak lain. Dampak-dampak tersebut seharusnya dieliminir untuk memacu pertumbuhan generasi yang inovatif, kreatif dan produktif di kampus.

Reformasi Pengenalan Kampus

Pengenalan Kampus merupakan aktifitas yang diperlukan baik oleh mahasiswa baru maupun pihak PT. Pengenalan kampus yang menitikberatkan pada materi akademik perlu dikembangkan dengan mengintegrasikan nuansa relijius, kreatif dan peduli sosial. Model pengenalan kampus seperti itu merupakan model yang akan menunjang tri darma perguruan tinggi.

Bernuansa relijius, kegiatan pengenalan mendekatkan mahasiswa baru untuk menjunjung nilai-nilai agama sebagai modal dasar manusia menuju keberhasilan. Materi akademik bertujuan menyiapkan mahasiswa untuk dapat cepat beradptasi dengan lingkungan perguruan tinggi. Nilai-nilai kreatifitas akan menumbuhkan rasa percaya diri dan motivasi meraih sukses belajar dan berorganisasi di kampus. Kepedulian sosial diperlukan dalam kegiatan pengenalan kampus agar kampus lebih dekat dengan masyarakat dan memupus anggapan bahwa kampus laksana menara gading. Kegiatan seperti bakti sosial yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi sangat dibutuhkan kehadirannya di tengah-tengah masyarakat.

Model pengenalan kampus yang simpatik seperti di atas, dapat dibuat bersama antara mahasiswa, dosen bahkan orang tua mahasiswa. Pelibatan orang tua mahasiswa diperlukan untuk memastikan bahwa pihak PT benar-benar memberikan perlindungan dan pelayanan seperti yang mereka harapkan. Dampak pelibatan seluruh unsur PT akan menumbuhkan kebersamaan dan rasa memiliki yang tinggi dan menekan munculnya kekerasan.

Selain menerapkan model pengenalan kampus relijius, kreatif dan peduli sosial maka perlu dihindari beberapa model lama untuk menekan tindak kekerasan. Pertama, menghindari kegiatan massal atau jumlah peserta yang sangat besar. Pengenalan kampus cukup dilakukan oleh unit struktural setingkat program studi atau departemen. Ini untuk memudahkan kontrol pada para peserta dan panitia. Kedua, menghindari penyeragaman atribut seperti baju, celana dan atribut lain, untuk menghindari pengindentifikasian yang mudah oleh pihak lain. Hal ini untuk menghindari mahasiswa baru menjadi obyek bulan-bulanan di luar acara pengenalan kampus. Ketiga, menghindari peran salah satu kelompok panitia yang sangat dominan dalam pelaksanaan acara. Setiap acara perlu mendapat perhatian dan pengawasan bersama antara mahasiswa, dosen bahkan bila perlu melibatkan pengawasan orang tua mahasiswa. Selama ini orang tua mahasiswa sering menjadi pihak yang menerima korban ketimbang menerima peran dari pihak PT.

Semoga kasus kekerasan di kampus semakin lenyap dalam pembicaraan masyarakat. Kita berharap bahwa mahasiswa yang akan menggantikan generasi pememimpin saat ini lebih mengedepankan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual dalam memecahkan masalah bangsa dan negara daripada kekuatan fisik.

Achmad Siddik Thoha

Dosen USU-Penggiat Kreatifitas

achmadsiddik@hotmail.com

081514297728

One response to “OSPEK Relijius, Kreatif dan Peduli Sosial

  1. mau tahu perploncoan yg sebenarnya….. masuk saja Perhimpunan Mahasiswa Bandung…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s