ETIKA RIMBAWAN DAN MANAJEMEN PERJALANAN

lonerangger.blogspot.com)

Reinhold Messner Pedaki Italia (sumber: lonerangger.blogspot.com)

Rimbawan


Mengupas definisi rimbawan, sangatlah luas dimensi yang tercakup di dalamnya. Membicarakan rimbawan, adalah berbicara mengenai orang yang bertanggung jawab mengelola sumberdaya alam. Rimba atau hutan adalah induk pembahasan masalah sumberdaya lahan. Bukankah lahan pertanian berasal dari hutan yang dibuka, dibersihkan lalu ditanami.

Semua kegiatan pengelolaan lahan bermula dari hutan. Maka pembahasan mengenai definisi, peran dan tanggung jawab rimbawan mengacu pada perspekstif pelestarian alam. Jadi, rimbawan bukan sekedar profesi dengan syarat menyandang gelar tertentu, tetapi semua pihak yang bertanggung jawab atas pengelolaan alam ini khususnya hutan. Sungguh mulia sorang rimbawan.

Etika Rimbawan


Dalam profesi bidang kedokteran, kita mengenal kode etik jurnalistik, bidang jurnalistik dikenal kode etik jurnalistik dan di parlemen ada kode etik anggota Dewan Perwakilan Rakyat Bila menyimak kamus bahasa Inggris maka etika diambil dari kata ethical yang berarti etis, pantas, layak, beradab, susila dan ethics yang berarti etika dan tata susila. Etika rimbawan bisa dimaknai dengan prinsip, sikap dan tindakan yang menunjukkan rasa peduli dan tanggung jawab terhadap pelestarian alam.

Prinsip seorang rimbawan hendaknya selalu kokoh, tegas dan berkomitmen kuat untuk menjadikan hutan lestari dan bermanfaat untuk kemakmuran semua manusia. Dengan berprinsip seperti itu, maka sikap yang muncul dari seorang rimbawan adalah peduli, jujur, loyal, berhati-hati, teliti, kritis, bersahabat, dekat dengan alam dan sederhana. Sehingga tindakan yang mucul adalah tindakan yang mulia laksana seorang manusia yang diberikan mandat langsung oleh Tuhannya untuk menjadi pengelola alam ini (khalifah).

Dengan memahami prinsip, sikap dan perilaku rimbawan, maka segala perilaku yang menyimpang dari perbuatan mulia maka bisa dikatakan telah melanggar etika kerimbawanan. Meskipun tidak ada sanksi dan peringatan apa pun dari kumpulan organisasi rimbawan, maka sanksi dan hukuman paling tidak akan datang dari Tuhan.

Manajemen Perjalanan


Rimbawan merupakan orang yang paling dekat dengan alam. Dia juga kelompok orang yang tak gentar dengan tantangan alam. Pada kesempatan lain rimbawan melakukan kegiatan berkelompok dan melibatkan pihak-pihak lain. Maka perjalanan yang dilakukan oleh seorang rimbawan adalah perjalanan bernuansa petualangan, berkelompok, kerjasama dan pengembaraan. Rimbawan sering melakukan petualangan di alam bebas, bekerja dalam tim, bekerjasama dan berinteraksi dengan berbagai pihak dan tak jarang berpindah-pindah menuju tempat yang telah direncanankannya.

Berpetualang di alam bebas perlu memahami karakteristik alam, kecukupan bekal (fisik, pengetahuan, materiil dan spirituil). Karakter hutan yang penuh tantangan dan bahaya perlu dipahami secara utuh tanpa menjadikan rimbawan gentar. Kondisi spiritual atau iman yang kuat dan fisik rimbawan yang bugar adalah syarat mutlak untuk dapat menelusuri dan menikmati alam bebas. Pengetahuan praktis bertahan hidup dan teknik menghadapi suasana darurat sangat diperlukan bagi orang yang berpetualang. Bekal lain yang tak kalah pentingnya yaitu kecukupan bekal makanan, pakaian, obat-obatan dan peralatan praktis lapangan (kompas, peta, survival kit, bivak, alat memasak, dll)

Perjalanan dalam kelompok mebutuhkan kerjasama dan kesolidan tim. Perbedaaan personil dalam kelompok harus bisa dipadukan menjadi kekuatan tim. Maka perlu diangkat seorang ketua kelompok yang akan menjadi pemimpin perjalanan dan kegiatan selama di lapangan. Dengan bekerja dalam kelompok maka setiap personil akan banyak belajar bagaimana membina kekompakan, menghargai pendapat, membuat keputusan bersama, merasakan kesenangan dan kepahitan bersama serta mencapai tujuan tim.

Saat ini hampir semua kawasan hutan telah dikelola baik kalangan pemerintah, swasta maupun masyarakat lokal. Maka rimbawan perlu bekerjasama dengan pihak-pihak tersebut untuk kelancaran kegiatannya. Kemampuan berkomunikasi, negosiasi, lobi, adaptasi lingkungan dan menjadi solusi buat masyarakat adalah ketrampilan yang dibutuhkan seorang rimbawan. Diharapkan kehadiran rimbawan di setiap tempat kegiatannya mampu memberikan penyegaran bagi pihak terkait.

Tip dalam Perjalanan

Usahakan :
Minta Ijin dan doa orangtua
Mempersiapkan spirituil, mental, fisik dan perbekalan
Menjalankan Ibadah dan tingkatkan
Selalu berdoa setiap beraktifitas
Selalu koordinasi dengan pihak terkait/pengelola (minimal opening meeting dan exit briefing)
Selalu adakan briefing dan evaluasi harian
Tidak sungkan meminta bantuan pengelola
Tulislah catatan harian dan isilah jurnal harian
Berolahraga untuk menjaga stamina
Memenuhi kebutuhan gizi tubuh
Inisiatif, kreatif dan tenang dalam menghadapi masalah
Memilah dan memilih kegiatan yang mendesak, penting, tidak mendesak dan tidak penting kemudian lakukan yang terbaik
Memanfaatkan kelebihan orang sekitar Anda untuk mendapatkan pengetahuan darinya
Meninggalkan kenangan dan kesan Indah dengan pihak yang membantu Anda
Teliti dan berhati-hati dalam bertindak
Peduli dengan lingkungan (teman, masyarakat dan pengelola hutan) dan siap membantu
Membawa buku yang membantu Anda merasa betah dan tenang di lapangan (Kitab Suci, Diary, Bacaaan Ringan)
Menghargai jasa orang lain meski tidak harus berbentuk hadiah barang
Mengisi waktu luang dengan kegiatan bermanfaat atau sosial (berinteraksi sosial)
Mencoba memenuhi undangan acara yang tidak bertentangan dengan keyakinan agama dan kebiasaan baik
Membawa alat dokumentasi (perekam suara, video recorder, kamera)

Hindari :
Perselisihan dengan orangtua, saudara dan teman sebelum berangkat
Makanan yang merusak kesehatan (miras, narkoba, dopping, dll)
Bertindak diluar wewenang dan tanpa koordinasi
Perselisihan dalam tim di lapangan
Membuat masalah dengan perusahaan dan masyarakat
Naik kendaraan di tempat yang berbahaya
Panik dan putus asa menghadapi masalah
Mengikuti aktifitas di dalam komplek perusahaan atau desa di luar tugas PKL
Membawa perbekalan yang berlebihan, Ingat PKL bukan pindah rumah
Melakukan kegiatan sendiri di luar kesepakatan tim
Membawa barang terlarang (secara hukum dan adat)
Membuat janji dengan pengelola dan masyarakat yang sulit dipenuhi
Pergi dari lokasi PKL (setelah PKL selesai) tanpa ijin pengelola
Berlebih-lebihan membelanjakan bekal
Menerima apa adanya kondisi lapangan tanpa berusaha maksimal

Achmad Siddik Thoha

Rimbawan USU Medan

6 responses to “ETIKA RIMBAWAN DAN MANAJEMEN PERJALANAN

  1. M. Darus Mukhidin

    RIMBAWAN…!!!!!
    JAYA…!!!!!

  2. pak ada nggak club rimbawan di kehutanan????

    sekitar bulan januari lalu saya baru aja berpetualang dihutan selama kurang lebih seminggu,,, (dalam rangka Moa PARINTAL FP USU),

    disana saya dapat belajar banyak hal terutama pembuktian dari tulisan bapa.

    ada satu hal yang mengganjal pak, mengenai masalah survival, ketika itu saya dihadapkan pada kondisi survival,,,, tapi anehnya ketika kami menjelajahi hutan kami menemukan jamur yang kami ragu bisa nggak dimakan, jadi pak, gimana sih membedakan jamur yang bisa dimakan atau nggak (ciri yang lebih spesifik)? en kemaren itukan survival boong-bongan pak, tapi gimana kalau real…. jadi gimana ya pak cara-cara survival bagi rimbawan muda kayak kami kalau dihadapkan pada kondisi itu, apa yang harus kami lakukan ?

    makasihhhh bahan kuliahnya pak!

    • Gabung dengan TCC (tree Climbing Community) saya ikut menggagas bersama mahasiswa, hubungi Yudha (thh 05) dan Nina MNH 05. Selamat bergabung

  3. ooooo,,,,, kalau kak nina mnh 05, saya sih kenal pak. ok insyaALLAH, secepatnya saya akan bergabung pak.

    trimakasihhhh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s