GLORY

Pasukan infrantri ke-42 dengan gagah berani menyerbu benteng Wagner, benteng pertahanan pasukan utara, pada siang hari yang terik. Perang saudara antara Utara dan Selatan di Amerika Serikat ini berkecamuk sangat hebat. Perang berlangsung sehari semalam. Perang ini laksana perang antara pasukan kulit hitam dan kulit putih. Pasukan kulit hitam berasal dari konfederasi, pihak negara yang sah, melawan pasukan kulit hitam, pasukan pemberontak orang bagian selatan.

Infrantri ke-42 Massachuset, merupakan pasukan kulit hitam pertama yang menginspirasi munculnya tentara kulit dalam jangka waktu berikutnya. Keberanian, kerelaan berkorban, semangat juang tanpa takut mati membuat pasukan ini menjadi legenda sepanjang sejarah perang saudara Amerika di akhir abad 19.

Orang kulit hitam (neger) awalnya merupakan golongan budak di Amerika. Mereka dikenal sebagai pekerja kasar dan kalangan kasta bawah. Meskipun beberapa individu memiliki jabatan tinggi di pemerintahan, tetapi neger tetap dipandang kasta terendah dan lebih layak sebagai budak.

Kapten Robert Shaw, pemimpin infrantri ke 42 mengubah segalanya. Dengan kepemimpinan yang khas dan kesetiaan pada negaranya, kasta terendah tersebut berubah menjadi legenda kepahlawanan bagi negara adidaya abad ini. Suka duka sebagai pemimpin begitu sabar dijalani Robert. Ketegasan, kedisiplinan, kepedulian dan teladan yang baik merupakan paduan sifat Robert yang membuat pasukannya sangat bangga dan setia padanya. Misalnya, Robert sangat memperhatikan kondisi pasukannya yang kakinya membusuk karena ternyata mereka butuh sepatu baru. Dengan rasa menyesal beliau langsung mendatangi kepala logistik untuk segera memberikan jatah sepatu bagi pasukannya.

Begitulah cuplikan kisah Film Kolosal “Glory” yang ditayangkan Metro TV pada Minggu Malam mulai pukul 20.05. Film ini sangat mengesankan. Banyak pelajaran yang bisa diambil oleh penonton. Aku sendiri sempat berkaca-kaca ketika melihat perjuangan Kaptren Robert Shaw bertahan dari kondisi sulit bersama pasukannya.

Sebuah tim yang melegenda tidaklah tergantung pada kualitas personal anggota tim. Bahkan dengan kualitas personal rata-rata yang awalnya rendah sekali pun, tim tangguh bisa terbentuk. Film Glory telah memberikan contoh bangsa neger/negro yang dulunya bangsa budak, dengan sentuhan cinta pemimpinnya bisa menjadi golongan sejajar yang kontributif.

Ketangguhan tim juga ditentukan bagaimana para anggotanya merasa memiliki, patuh pada aturan, disiplin, punya kebanggaan, punya visi perubahan dan rela berkorban. Anggota tim punya tekad yang kuat merubah dirinya dari citra yang biasa tentang dirinya menjadi luar biasa. Anggota tim merasa bahwa dalam tim, harus saling mengingatkan, peduli dan membina kebersamaan untuk menumbuhkan soliditas. Semua ini dicontohkan oleh pasukan negro yang punya visi menjadi golongan sejajar dengan white man sehingga terbina kepedulian, kebersamaan, kebanggaan. Inilah yang kemudian melahirkan glory, kemuliaan hati, yang menghasilkan kejayaan negeri.

Seandainya Glory menjadi sikap bangsa kita, mungkin Indonesia bisa sejajar dengan Amerika. Wallahu’a’lam.

Bogor, 30 Agustus 2005
Achmad Siddik Thoha
siddikthoha@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s