MEMAAFKAN: RENUNGAN DARI SERIAL OPRAH WINFREY

Acara Oprah Winfrey mengalihkan pandanganku sejenak. Niat hanya menyimak sejenak ternyata nerlanjut hingga acara usai. Tema kali ini adalah bagaimana korban pelecehan sekseual menjalani hidupnya. Narasumber acara berasal dari para korban pelecehan, pelaku pelecehan dan pemuka agama. Acara ini dihadiri oleh pemirsa di studio yang semuanya merupakan korban pelecehan.

Ada beberapa ungkapan menarik dari narasumber dan pemirsa di studio. Hal yang sangat berkesan adalah bagaimana mereka memahami hakikat memaafkan (forgive). Memaafkan telah membuat beberapa korban merasa hidup lebih baik. Mereka, para korban, merasa lepas dari kungkungan masa lalu yang terasa sulit dan berat. Dengan memaafkan mereka bisa menatap masa depan lebih terang.

Ada adegan yang sangat mengejutkan dalam acara ini.  Salah satu korban, Angelina, dengan berani memeluk pelaku dengan begitu tulus. Pelukan ini sebagai bukti memaafkan dari korban. Apa reaksi pelaku pelecehan setelah menerima pelukan dari korban ? Pelaku yang bernama Andrew berkaca-kaca dan mengaku bahwa kini hatinya terasa terang. Andrew merasa dirinya dipeluk oleh malaikat yang memberi harapan hidup baginya.

Beberapa pernyataan menarik dari pemuka agama dalam acara ini antara lain:

“Perlu energi yang sangat besar untuk memelihara kebencian dalam dirimu. Kebencian akan mengungkung hidupmu. Bahkan kebencian yang terpendam bisa mendatangkan penyakit-penyakit fisik seperti kanker dalam hidupmu. Sedangkan memaafkan dapat merubah masa lalu menuju harapan masa depanmu yang lebih cerah”

Oprah, host acara, mengakhiri acara bahwa pernyataan :

“Hanya 1% saja pelaku pelecehan seksual yang dihukum.”

Pernyataan ini menunjukkan bahwa di negara tempat acara ini dibuat, pelecehan merupakan hal yang menakutkan bagi wanita. Sangat banyak kasus pelecehan yang terjadi di Amerika Serikat yang tak tersentuh hukum. Bahkan paradigma masyarakat AS menganggap bahwa melecehkan wanita dan memperkosa adalah biasa, karena mereka toh akan menikmatinya nanti hanya masalah waktu saja. Setiap wanita akan merasakan hubungan badan juga pada waktunya, hanya keterpaksaan atau waktu yang terlalu dini yang membuat tidak lazim. Begitulah paradigma masyarakat liberal barat. Maka tidak heran bila pelaku pelecehan bahkan perkosaaan di AS hanya bisa bertahan lama di penjara maksimal 6 bulan.

Bagaimana di Negara Kita?

Bogor, 26 Agustus 2005
Achmad Siddik Thoha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s