SOLIDARITAS DAN POPULARITAS

Media massa mulai memusatkan perhatiannya pada bencana Aceh dan Sumut. Segala sumberdaya perusahaan media dikerahkan menuju lokasi gempa, khususnya Aceh. Media berpacu dengan waktu untuk menampilkan tayangan ekslusif. Mereka mengejar informasi terkini dan terheboh dari peristiwa maha dahsyat tersebut.

Metro TV, membuat acara ekslusif “INDONESIA MENANGIS”, SCTV menyajikan “DARI TITIK NADIR” dan tanyangan ekslusif lain yang tiba-tiba muncul dengan porsi yang berbeda-beda. Ada yang menayangkan kondisi bencana hampir 60 persen jam tayang, ada yang 30 % bahkan ada yang Cuma diliput dalam acata news/berita.

Hari pertama ba’da bencana, muncul tokoh-tokoh nasional yang memberikan tanggapan, doa, dan komentar mengenai bencana di Aceh dan Sumut. Bahkan Ust Arifin Ilham muncul di Metro TV untuk memberikan untaian hikmah dan do’a nya yang sangat menyentuh. Beliau ingin memberikan penyadaran bagi pemirsa bahwa bencana ini merupakan ujian dan peringatan Allah agar manusia kembali kepada seruan Allah.

Baru kali ini kulihat penyiar televisi meneteskan air mata. Begitu pula peliput berita di lapangan yang melaporkan korban gempa dan tsunami tak tahan membendung rasa kesedihan dan keprihatinan. Semua sorot mata tertuju pada Aceh, daerah yang tak lepas dari duka sepanjang Indonesia merdeka.

Tayangan bencana di media khususnya televisi telah membuat hati manusia mengalami kejutan hebat. Mulailah hati merespon derita tanpa menunggu dengan berbagai aksi. Aksi solidaritas merebak dimana-mana dan dari berbagai kalangan. Kalangan tua, muda, politisi, selebritis, ulama maupun orang awam. Dari RT, RW hingga PBB serebtak memberi dukungan moral dan materiil tanpa menunggu lama.

Musibah Gempa dan Tsunami di Asia dan Afrika menyatukan hati manusia merasakan keprihatinan dan tergeraknya hati untuk segera menolong. Tidak pernah dijumpai sepanjang sejarah, seluruh umat manusia tanpa basabasi dan alasan apa pun memberikan respon yang sama, segera beraksi. Musibah gempa dan tsunami di Lautan Hindia Selatan membangkitkan solidaritas dunia.

Benarkan semua perhatian dan bantuan murni merupakan solidaritas ? Tidakkah kita melihat hal lain. Nyatanya ada udang di balik batu dari solidaritas. Sadar tidak sadar kita menyaksikan unjuk solidaritas dari berbagai pihak. TV unjuk gigi dengan Live Event dan Charity Show-nya. Negara-negara di dunia unjuk kekuatan dengan peralatan militer dan tim ahlinya. Organisasi masyarakat unjuk kekuatan dengan relawan dan paket bantuan. Semua aktivitas pihak penyumbang ingin diliput sejelas dan seanggun mungkin. Popularitas sengaja atau tidak sengaja sedang diburu semua pihak.

Dibalik kepopuleran satu pihak, terdapat pula ketidakpopuleran pihak lain. Bila organisasi non pemerintah (Ornop) yang populer , maka pemerintah tidak populer. Bila organisasi massa (ormas) non agama populer, maka ormas berbasis agama menjadi tidak populer. Atau bila partai tidak populer bergerak cepat dan tanggap membantu, maka partai besar surut kepolulerannya.

Nyatanya, kepopuleran bisa direkayasa. Pihak yang punya media dan dana, dengan mudah mempopulerkan programnya sendiri meski di lapangan tidak banyak bekerja. Sedangkan pihak yang berjibaku membantu korban bencana, dengan liputan sangat minim, tidak dianggap berjasa bagi khalayak. Sungguh ironis. Apakah bantuan menjadi berkah bila situasi bencana masih saja dimanfaatkan untuk meraih kepopuleran. Naudzubillah ! (Bogor, Selasa, 08 Februari 2005; 22:31 WIB)

Achmad Siddik Thoha
siddikthoha@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s