YANG TERSISA DARI MANGROVE JAKARTA

Menelusuri Sisa Hutan Jakarta

Pekan lalu, 10 Januari 2010, saya bersama kawan-kawan berjalan-jalan dalam kegiatan Fieldtrip kuliah ke Hutan di Jakarta. Emang di Jakarta ada hutan?. Inilah uniknya. Apalagi yang saya kunjungi hutan mangrove. Orang awam mengenal hutan mangrove dengan sebutan hutan bakau. Hutan bakau berada di daerah yang terkena pasang surut air laut. Hutan ini sealu tergenag setiap hari oleh air asin dan tertutup lumpur dari muara sungai.

Tujuan pertama saya adalah Kawasan Ekowisata Mangrove Sudiyatmo. Pasti sahabat yang sering bolak-balik Bandara Cengkareng akan hapal dengan tempat ini. Lokasinya tepat dipinggir kanan kiri tol Sudiyatmo Jakarta. Hutan mangrove yang tersisa hanya sekitar 95.5 ha yang memanjang 9 Km selebar 100 kanan kiri jalan tol Sudiyatmo.

Kawasan Mangrove Tol Sudiyatmo menyisakan pohon-pohon jenis mangrove sepetri Api-api (Avicenia sp.), Bakau (Rhizopora sp.) dan Perepat (Sonneratia sp.). Tinggi pohon rata-rata 5 m dengan diameter terbesar sebesar tiang listrik. Kawasan ini menjadi pusat wisata memancing dimana ratusan orang memancing ikan dipinggiran hutan mangrove. Selain itu terdapat Mangrove Education Center yang merupakan pusat pembibitan dan rehabilitasi mangrove yang dikelola oleh Dinas Perikanan dan Pertanian DKI Jakarta. Sekitar 10.000 bibit dipelihara dan di tanam di kawasan ini. Terdapat beberapa Perusahaan yang ikut mendanai rehabilitasi mangrove di kawasan ini seperti PT Bank Mandiri, PT Adira dan perusahaan lain melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan IPB.

Perjalanan berlanjut. Meski kunjungan saya ke Hutan, namun saya harus berputar-putar di perumahan elit Jakarta yakni Perumahan Pantai Indah Kapuk. Perumahan ini konon dibangun dengan mereklamasi (menimbun tanah) kawasan mangrove Angke Kapuk ratusan hektar. Saya melihat-lihat perumahan dimana banyak tawaran rumah baru dengan cicilan termurah ”hanya” 22 juta/bulan. Saya pun mengkerutkan dahi, dalam hati saya berkata, ” 22 juta kok hanya.” Gaji berapa ya yang sanggup beli rumah disini ?

Kunjungan berlanjut di Taman Wisata Alam Angke Kapuk (luas 25 Ha). Saya sempat bingung, apa yang akan dilihat disini. Hanya hamparan air dengan sedikit semak dan pohon kecil dipinggir. Ternyata kami disuruh mengukur bibit yang sedang dalam uji pertumbuhan di pinggir sungai lokasi Wisata ini. Hanya dua burung yang menarik perhatian. Saya berhasi mengambil gambar burung-burung itu sehingga bisa sedikit mengobato kekecewan dan kebingunan tadi.

Berkeliling perumahan elit kembali berlanjut.. Kami turun di Mall Besar. Kembali kami bingung. Kembali hati berbisik “Mau ngapain lagi ini? Belanja?.” Ternyata tepat di belakang Mal, terhampar luas Kawasan Hutan Lindung Angke Kapuk Yakarta Utara . Disana kami melihat lokasi penanaman bibit Bakau sebanyak 1.500 bibit.

Bibit Bakau yang ditanam sangat merana. Air tercemar serta sampah plastik dan stereofoam menutupi bibit setinggi sekitar 1 m yang baru ditanam sekitar setahun yang lalu. Kasihan sekali bibit bakau ini, padahal ada plang nama di dekat bibit itu dan baliho besar bergambar istri Menteri Perikanan dan Kelautan periode lalu sedang menanam bakau. Juga ada bibit bakau berlabel Gubernur DKI Jakarta, Walikota Jakarta Utara dan Ketua DPRD DKI Jakarta di dekat sampah-sampah itu. ”Bibit punya pejabat aja dibiarkan merana apalagi yang nanam saya? Bagaimana pula nasibnya?” Kembali saya bertanya dalam hati

Perjalanan berlanjut dengan menyusuri pantai Indah Kapuk. Awalnya hati saya riang gembira. ”Ini baru jalan-jalan pantai Euy.” Bisik hati saya. Waduh, ternyata lebih parah. Sesudah 200 meter kami menuju pantai sambil berloncatan diatas batu, tibalah kami pada pemandangan yang kontras. Bukannya pasir putih dan ombak putih menggulung yang kami jumpai. Kami harus menelan ludah setelah melihat air laut hitam pekat dan sampah yang berjejer sepanjang hampir 1 km menutupi pantai yang dibentengi bebatuan besar ini.

Namun diujung pantai berminyak hitam dan seperti tempat pembuangans sampah ini masih ada pohon-pohon bakau yang tumbuh. Sisa hutan inilah yang memberi pemandangan melegakan disamping banyak burung bangau putih dan oranye yang mondar-mandir. Akhirnya ”legenda” Pantai Indah Kapuk saya lihat sendiri saat itu. Beruntungnya saya menyaksikan ”tragedi lingkungan” yang sudah saya dengar 15 tahun lalu.

4 responses to “YANG TERSISA DARI MANGROVE JAKARTA

  1. salam pak..
    jadi pak bagaimana tindakan kita agar kita bisa menyelamatkan hutan mangrove tersebut??
    padahal di pulau tersebut banyak di bangun universitas kehutanan.(mahasiswa KEHUTANAN)…tapi mengapa sampai banyak terkumpul sampah di pantai,..dan tempat lainnya…???
    apakah kehutanan hanya tinggal nama saja…semua yang dipelajari hanya teori saja….

    saya kira semua orang sudah tahu bagaimana pengaruh sampah tersebut..tapi mengapa y???

    • Teori sudah banyak, teknologi berkembang maju…tinggal moralitas dan komitmen yang tinggi belum terlihat adap semua level pengambil keputusan dan pelaksana

  2. selamat siang pak..

    pak …apakah ada tujuan dari suatu organisasi untuk menyelamatkan gambut?? sehingga hutan mangrove dapat terlindungi…..tetapi kulihat dan kubaca semua blog bapak mengenai kerusakan hutan mangrove semuana?

    • Gambut perlu diselamatkan karena sangat rapuh. Sekali dirubah atau dirusak ia sulit kembali pada kondisi semula. Saat ini pemerintah sudah membuat aturan Moratorium Konversi Lahan Gambut, dimana tidak ada lagi pembukaan lahan gambut untuk dikelola baik untuk pertanian dan kehutanan.

      Mangrove juga bagian konsern saya. Hutan gambut dan mangrove juga ada kaitannya terutama lahan gambut dimana airnya berasal dari sungai. Beberapa penelitian saya berkenaan juga dengan lahan gambut khususnya kebakaran hutan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s